Hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

Diposting pada

Sebagaimana kita ketahui, hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit adalah sangat serasi dan seimbang antara yang satu dengan yang lainnya, sebab sumbernya sama, yaitu dari kekuatan kejiwaan yang disebut Purusa dan kuatan kebendaan yang disebut Prakerti atau Pradana. Kedua kekuatan ini bersatu sehingga tercinta Bhuwana Agung (alam semesta) dan Buhwana Alit (diri manusia).

Hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

Hubungan Bhuwana Agung dan Buhwana Alit

Di dalam Wrhaspati Tattwa disebutkan terjadinya Bhuwana Alit (manusia) sama dengan terjadinya Bhuwana Agung (alam raya), yaitu dari kemahakuasaan ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Parama Siwa, Sadha Siwa, dan Siwatma Siwa. Dalam kemahakuasaan Sada Siwa timbul kekuatan yang disebut Saguna Brahman yang akan melahirkan unsur Jiwatman dan badan manusia. Bhuwana Alit adalah dunia kecil yang unsur-unsurnya sama dengan Bhuwana Agung di mana Bhuwana Alit Juga disebut mikrokosmos yang dibentuk oleh unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang sama di dalam Bhuwana Agung atau sering disebut makrokosmos.

Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan sumber dari keberadaan Bhuwana Agung (makrokosmos) dan Bhuwana Alit (mikrokosmos) membuktikan bahwa Bhuwana Agung, dan Bhuwana Alit berasal dari unsur yang sama dan mengalami suatu proses yang amat panjang. Baik Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit keduanya mengalir dari Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam kondisi sangat suci, tanpa sifat, dan tidak dapat didefinisikan. Akibat adanya pengaruh Maya, yaitu ketidaksadaran, maka lahirlah citta atau alam pikiran. Sehingga terus muncul zat-zat baru yang antara satu dengan yang lain berkaitan. Hal ini diumpamakan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit ibarat hubungan antara perahu dengan air. Perahu tidak dapat berlayar kalau tidak ada air. Jadi air itulah yang menyebabkan perahu itu dapat berlayar menuju pantai tujuan. Tapi kalau salah caranya, justru air itu sendiri yang akan menenggelamkan perahu. Karena itu, perahu harus menggunakan air itu sebaik-baiknya dalam mengarungi samudra.

Demikian pula halnya manusia (Bhuwana Alit) dengan alam semesta (Bhuwana Agung). Tanpa alam, manusia tidak dapat hidup. Alam adalah tempat dan sumber dari kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Kalau manusia mampu dan tepat menggunakan alam ini, alam akan memberikan kita manfaat dan kebahagiaan tiada habis-habisnya. Tetapi kalau manusia salah dalam mengolah alam ini, maka alam akan menyebabkan manusia menderita. maka dari itu Agama Hindu mengajarkan agar manusia (Bhuwana Alit) dengan Alam Semesta (Bhuwana Agung) itu tetap harmonis demi kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin. Dengan kata lain, keseimbangan ekosistem perlu di jaga. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa manusia harus mengharmoniskan diri dengan lingkungan hidup yang nyata-nyata menimbulkan rasa aman, tentram, dan bahagia dalam kehidupan. Demikianlah falsafah makrokosmos dalam Agama Hindu yang mengandung arti harmonis hubungan manusia dengan lingkungannya yang memberikan pengaruh positif secara timbal balik.