Perbedaan Hardbrick dan Softbrick Pada Xiaomi dan Cara Menanganinya

Diposting pada

Kenali perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi serta ketahui cara yang benar untuk mengatasinya lewat informasi yang ada di bawah ini.

Pada kesempatan berikut ini akan dibahas mengenai perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi. Masalah tersebut memang kerap dipertanyakan, pasalnya ketika terjadi hardbrick ataupun softbrick maka ponsel xiaomi tidak dapat digunakan dan untuk dua masalah yang berbeda tentunya dibutuhkan solusi yang berbeda pula. Hal ini tentunya sangat menyusahkan apalagi bila ponsel tersebut dipakai untuk berbagai keperluan penting. Kira-kira apa saja perbedaan hardbrick dan softbrick pada Xiaomi, lalu bagaimana cara mengatasi kedua masalah ini? Simak dalam bacaan berikut.

Perbedaan Hardbrick dan Softbrick Pada Xiaomi dan Cara Menanganinya

Pengertian Hardbrick

Perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi dapat Anda kenali daengan mudah lewat gejala yang ditunjukannya. Saat mengalami hardbrick maka ponsel Anda sama sekali tidak bisa digunakan atau istilahnya mati total. Bahkan ketika Anda menghubungkannya dengan kabel pengisi daya, perangkat xiaomi Anda tidak akan meresponnya sama sekali. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perangkat yang mengalami situasi tersebut tidak bisa masuk ke dalam EDL maupun recovery mode.

Penyebab Terjadinya Hardbrick

Semua masalah pastinya ada penyebabnya, begitu juga dengan smartphone yang mengalami hardbrick. Adapun beberapa penyebab yang bisa memicu terjadinya hardbrick pada ponsel seperti di bawah ini:

1. Gagal Rooting

Meskipun terdapat perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi namun sudah bukan jadi rahasia lagi kalau smartphone yang telah melakukan rooting lebih rawan terhadap kerusakan. Maka dari itu dibutuhkan banyak keberuntungan agar proses rooting bisa berjalan dengan lancar sehingga banyak orang yang memilih menghindari rooting pada hp mereka. Selain itu terdapat resiko yang harus ditanggung apabila proses rooting ini gagal yaitu area bootloader dapat mengalami kerusakan yang  mengakibatkan brick.

2. Proses Upgrade OTA Gagal

Saat melakukan upgrade OTA biasanya Anda akan memerlukan waktu puluhan menit hingga satu  jam lebih untuk menunggu pembaruan terinstal. Oleh karena itu, diperlukan daya baterai yang lumayan besar untuk mencukupinya. Karena pada proses ini daya baterai tidak bisa dipantau, maka untuk berjaga-jaga setidaknya smartphone harus dalam keadaan memiliki daya 70% atau lebih. Apabila smartphone sampai mati saat proses update berlangsung maka hal ini dapat berdampak pada area efs maupun menyebabkan kerusakan pada boot.

3. Kegagalan saat Melakukan Flashing

Terdapat perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi dalam pengertian maupun gejalanya. Namun kedua masalah ini dapat ditimbulkan oleh penyebab yang sama, dan salah satunya adalah kegagalan pada proses flashing. Salah satu kegagalan yang sering terjadi adalah ketika proses flashing yang terhenti akibat putusnya arus listrik atau daya baterai yang tiba-tiba habis.

4. Penggantian ROM yang Tidak Sesuai

Perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi dalam faktor gejala biasanya disebabkan oleh masalah internal hardware. Bisanya yang sering mengakibatkan hardbrick yaitu ketidak cocokan custom RAM dengan ponsel yang digunakan.

Misalnya saja chipset smartphone Anda adalah snapdragon maka ROM yang harus Anda gunakan juga harus kompatibel dengan snapdragon. Apabila Anda menggantinya dengan ROM untuk mediatek, maka saat melakukan flashing ketidaksesuaian ini bisa mengakibatkan kegagalan.

5. Kerusakan Pada IC eMMC

Jika menyangkut kerusakan pada IC maka wajar apabila smartphone bisa sampai mengalami hardbrick, karena seluruh sistem pada smartphone Anda memang bergantung pada komponen tersebut. Kerusakan komponen penting ini pun bisa terjadi akibat lamanya pemakaian, ataupun faktor kesalahan manusia pada saat mengotak-atik ponsel.

Pengertian Softbrick

Lain halnya dengan hardbrick yang kebanyakan dikarenakan oleh faktor komponen dalam ponsel, masalah pada softbrick lebik ke persoalan software. Sesuai dengan sebutannya masalah ini terjadi ketika perangkat lunak ponsel mengalami freezing atau bootloop. Kondisi ini biasanya sering terjadi saat melakukan pembaruan OS maupun saat melakukan flashing.

Perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi yang paling nampak adalah saat ponsel dihidupkan. Berbeda dengan hardbrick yang tidak bisa dinyalakan sama sekali, pada kondisi softbreak smartphone masih bisa Anda nyalakan namun biasanya hanya stuck sampai di logo saja dan tidak mengalami perkembangan. Karena masih bisa terhubng dengan USB maka ponsel yang mengalami softbreak masih dapat terdeteksi oleh perangkat komputer. Sehingga hal ini memungkinkan Anda untuk mengakses EDL dan recovery mode untuk memperbaikinya.

Penyebab Terjadinya Softbrick

Perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi yang terletak pada software berikut ini biasanya menimbulkan stuck yang terus menerus atau bootloop secara tiba-tiba. Hal ini  biasanya disebabkan oleh sistem yang terhapus sehingga gagal untuk masuk ke homescreen. Terdapat juga faktor lain seperti instalasi pembaruan OS yang gagal akibat ponsel mati dan lain sebagainya.

Cara Menangani Hardbrick dan Softbrick

Seperti halnya perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi maka penangannya pun tidak boleh disamakan. Oleh karena itu Anda bisa melihat masing-masing penangan untuk kedua kasus tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa perbedaan hardbrick dan softbrick pada xiaomi ada pada letak kerusakannya. Jika pada hardbrick penyebab utamanya adalah dari kerusakan hardware seperti ROM yang digunakan ponsel, atau kerusakan yang lebih parah yaitu dari IC. Sedangkan sumber masalah softbrick lebih ke persoalan software dan kegagalan sistem internalnya, jadi lebih mudah diperbaiki.