Terjadinya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

Diposting pada

Terjadinya Bhuwana Agung

Di alam semesta hanya ada satu penguasa, Beliau mengatur alam semesta ini dan dari Beliau alam semesta ini muncul. Secara pasti tentu sangat sulit untuk mengetahuinya, lebih-lebih bila dihubungkan dengan keberadaan umur manusia yang sangat terbatas.

Namun demikian, para ahli mencoba menafsirkan keberadaan-Nya. Alam semesta atau Bhuwana Agung ini dahulu pernah tidak ada lalu ada, kemudian tidak ada lagi dan demikian seterusnya berulang-ulang kali. Pada saat alam semesta ini ada disebut masa “Srsti”¬†atau “Brahma Diwa” (siang hari Brahma) dan ketika alam semesta tiada disebut dengan “Pralaya” atau “Brahmakta” (malam hari Brahma). Jika masa Srsti atau Brahma Diwa digabungkan dengan masa Pradya atau Brahmakta atau satu Kalpa.

Terjadinya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

Peristiwa (proses) terciptanya Bhuwana Agung ini berlangsung secara berjenjang, dari jenjang teramat gaib (niskala) atau halus sampai pada jenjang yang tampak berwujud (sekala) atau amat kasar. Berdasarkan pendekatan agama, alam semesta atau Bhuwana Agung ini pada mulanya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang bergelar “Rudra“. Dalam kitab Upanisad disebutkan sebagai berikut:

“Eko hi Rudra na dwitiya tasthur ya imam cokam isata esanibhi pratyani janan tisthati sancukosanta samrjya viswa bhuwanam gopah”.

Artinya:

Di alam semesta ini hanya ada satu penguasa, yaitu Rudra. Beliau tidak memperkenankan yang lain sebagai yang keduanya, Beliau mengatur semua alam dengan kekuatannya. Rudra selesai menciptakan semua alam dengan seluruh isinya. Beliau juga berperan sebagai Maha Pelindung dan akhirnya dari titik akhir periode zaman tertentu. Beliau menyerap segala yang ada itu dan memasukkannya ke dalam diri Beliau.

Dari bunyi sloka tersebut di atas dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada muncul dari penguasa, yaitu Rudra. Rudra yang dipandang sebagai Tuhan Yang Maha Agung, dalam menciptakan alam semesta. Beliau mempergunakan satu maya atau Prakerti. Kekuatan Tuhan yang disebut maya memiliki beraneka tenaga, dari maya ini kemudian muncul Triguna yaitu Satwam, Rajas, dan Tamas. Melalui maya yang telah diliputi Triguna maka bergeraklah unsur-unsur yang menjadikan alam semesta yang terdapat dalam maya, antara lain Pramanu, Akasa, Kola, dan Dik. Mereka berputar dan berubah masing-masing menuju pada posisinya sehingga muncul dunia, bintang, matahari, bulan, dan planet-planet dalam suatu ruang angkasa yang luas yang disebut Dik.

Masing-masing planet akan mengalami perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan ini disebabkan karena persentase dari Pramana dan Akasa pada suatu planet dengan planet yang lain berbeda. Pramanu dan akasa ini sering disebut dengan nama Panca Maha Bhuta. Setelah terbentuk alam semesta atau Bhuwana Agung melalu proses evolusi dari Pramanu dan Akasa maka merupakan kewajiban Sang Maha Kuasa (Rudra) untuk mengisi alam semesta dengan suatu kehidupan, seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, dan lainnya sehingga dunia menjadi ramai. Demikian penciptaan Bhuwana Agung yang kesemuanya muncul dari Sang Penguasa, yaitu Tuhan.

Terjadinya Bhuwana Alit

Asal mula Bhuwana Alit (manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan) pada dasarnya adalah sama. Bhuwana Alit adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan Bhuwana Agung. Berdasarkan sastra diketahui penciptaan makhluk hidup di dunia ini juga mengalami evolusi, yaitu perubahan peningkatan perlahan-lahan. Demikianlah setelah jagat raya diciptakan Tuhan maka berlanjut penciptaan makhluk hidup, dari makhluk hidup yang terendah sampai makhluk hidup yang tertinggi, yaitu manusia. Makhluk hidup yang paling awal diciptakan adalah Stawara. Stawara hidup di tempat dengan tidak berpindah-pindah. Tumbuh-tumbuhan yang tergolong Stawara (Eka Pramana) adalah sebagai berikut.

  1. Trana, bangsa rumput yang hidup di air dan didarat.
  2. Lata, bangsa tumbuhan yang menjalar di tanah atau di pohon.
  3. Taru, bangsa semak.
  4. Gulma, bangsa pohon yang bagian luarnya berkayu keras dan bagian dalamnya berongga atau kosong.
  5. Janggama, bangsa tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain.

Setelah penciptaan Stawara kemudian dilanjutkan dengan penciptaan Marga Satwa, yaitu bangsa binatang yang memiliki Dwi Pramana. Adapun yang tergolong Marga Satwa (Dwi Pramana) adalah sebagai berikut.

  1. Swedaya adalah bangsa binatang satu sel yang hidup di air ataupun tanah basah.
  2. Andaya adalah bangsa binatang yang bertelur, yang biasa hidup di air, darat, maupun udara.
  3. Jarayuda adalah bangsa binatang yang menyusui, baik pemakan rumput ataupun pemakan daging.

Kemudian dilanjutkan dengan penciptaan pada makhluk yang memiliki Tri Pramana. Adapun ciptaan yang tergolong Tri Pramana adalah Nara Marga, Wamana, dan Jatma Manusia.

  1. Nara Marga, artinya manusia binatang. Para seniman Hindu melukiskan keberadaan manusia ini seperti Nara Singa, yaitu makhluk hidup yang berbadan manusia dan berkepala singa.
  2. Wamana adalah manusia kerdil.
  3. Jatma Manusia adalah manusia yang memiliki sikap mental yang terpelajar, beriman, berbudi luhur, cakap, terampil, berkepribadian mandiri, dan mantap, serta bertanggung jawab pada sesama, masyarakat, dan bangsanya.

Demikianlah makhluk-makhluk hidup yang diciptakan yang dikenal dengan istilah Bhuwana Alit atau manusia.